Mengapa penderita Covid mengalami penurunan saturasi oksigen?

Kesehatan, Nasional832 Dilihat

Oleh : Arie Karimah. Pharma-Excellent. Alumni ITB

Karena rumah sakit semakin penuh dan para dokter semakin sibuk, maka setiap orang kini wajib meningkatkan pengetahuannya tentang kesehatan dan Covid. Kini oxymeter sudah menjadi kelengkapan “rumah tangga”, dimana ada anggota keluarga yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Oximeter adalah alat untuk mengukur saturasi oksigen (SpO2), yang menggunakan 2 sumber cahaya: cahaya merah dan infra merah, yang diserap oleh darah. Penyerapan yang lebih besar terhadap sinar infra merah, akan menunjukkan saturasi oksigen yang baik, sedangkan penyerapan sinar merah yang lebih besar menunjukkan saturasi oksigen yang buruk.

Pengukuran harus dilakukan sambil duduk, bukan berbaring. Dalam waktu 10 detik sudah diperoleh hasil, berikut angka denyut jantung per menit. Kenapa?

Karena saturasi oksigen yang rendah umumnya akan diikuti dengan meningkatnya kecepatan denyut jantung. Angka normal: 60-80 denyut per menit.

Saturasi oksigen adalah angka yang menunjukkan berapa banyak hemoglobin di dalam sel darah merah kita mampu mengikat oksigen yang ada di paru-paru. Makin besar angkanya berarti menunjukkan ketersediaan oksigen yang cukup di paru-paru.

Sebaliknya angka yang rendah menunjukkan bahwa paru-paru mengalami kekurangan oksigen. Oksigen dibutuhkan oleh semua sel tubuh kita untuk proses metabolisme menghasilkan energi.

Angka normal saturasi oksigen (SpO2):
🌲94-99%.
🌲88-92%: khusus untuk penderita penyakit paru-paru kronis, misal: asma, bronkhitis, emfisema.

Untuk pada penderita Covid:
🍪Angka 93-94: berarti kondisi penyakit sedang.
🍪Angka 92 atau kurang: berarti kondisi penyakit parah.

Hipoksia adalah kondisi jika saturasi oksigen:
🌼< 94%.
🌼< 88%: khusus untuk penderita penyakit paru-paru kronis, misal: asma, bronkhitis, emfisema.
Jika angkanya kurang dari 75 bisa terjadi hilang kesadaran.

Mengapa penderita Covid mengalami penurunan saturasi oksigen?

Ketika virus Covid berhasil masuk ke paru-paru mereka akan menyerang dan membunuh 2 jenis sel:
🍇Goblet: berfungsi menghasilkan lendir / dahak.
🍇Cilia yang berambut: berfungsi mencegah debris (virus, bakteri, sel-sel mati, partikel debu dan serbuk sari) dan cairan bertumpuk di paru-paru.

Akibat dari dibunuhnya kedua jenis sel itu oleh virus, maka paru-paru mulai terisi dengan cairan, sehingga penderita mulai sulit bernafas karena tidak cukup tersedia ruang untuk oksigen. Saat inilah saturasi oksigen mulai turun.

Dalam kondisi seperti itu Natural Killer Cells (NK-cells) akan mulai membunuh sel-sel paru-paru yang sudah terinfeksi virus tersebut.

Sayangnya, pada sebagian orang, khususnya yang telah berusia lanjut dan memiliki faktor comorbid (misal: diabetes, hipertensi) NK-cells bereaksi berlebihan sehingga juga membunuh sel-sel paru-paru yang sehat. Akibatnya terjadi kerusakan paru-paru lebih lanjut. Hasil rontgen paru-paru menunjukkan kabut (GGO, Ground Glass Opacity) dan tampak seperti pecah-pecah. Akibatnya penderita semakin sulit untuk bernafas.

Celakanya infeksi sekunder oleh bakteri juga akan mudah terjadi di fase ini, sehingga ikut memperburuk situasi. NK-cells akan semakin kewalahan menghadapi serangan bersama virus dan bakteri. Pengobatan dilakukan dengan suntikan atau infus steroid, untuk mengatasi peradangan.

Jika tidak tertangani dengan baik kondisi ini bisa menyebabkan munculnya ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) atau kegagalan fungsi paru-paru, yang kemudian diikuti dengan kegagalan fungsi organ-organ lain, karena mereka tidak mendapat suplai oksigen dengan cukup. Akibatnya bisa terjadi kematian.

Kenapa penderita isolasi mandiri memerlukan oximeter (di rumah)?

🍇Pada keadaan normal mereka yang mengalami penurunan saturasi oksigen akan menunjukkan gejala sesak nafas. Namun pada penderita Covid gejala ini sering TIDAK MUNCUL, meskipun saturasinya 91% atau lebih rendah, dan mereka bernafas 23 kali per menit. Normalnya orang bernafas 12 – 20 kali per menit.

🍇Tidak munculnya gejala ketika saturasi oksigen turun ke tingkat yang berbahaya membuat anggota keluarga yang lain akan sulit mengetahui status keparahan Covid. Ini yang dikenal sebagai Happy Hypoxia. Itu sebabnya perlu dimonitor angkanya dengan alat oximeter.

🍇Laju pernafasan yang cepat, lebih dari 20 kali per menit akan meningkatkan risiko kematian penderita Covid.

🍇Angka saturasi oksigen juga bisa membantu mengetahui kapan kondisi penderita menurun dan butuh bantuan oksigen dari luar. Jika SpO2 kurang dari 90%: perlu segera diberikan oksigen, agar saturasi naik menjadi 92-96%.

🍇Penderita yang memiliki faktor risiko (comorbid, misal: hipertensi, diabetes, hiperkolesterolemia, penyakit jantung koroner), bisa membuat kondisi Covid memburuk dengan kategori parah (severe). Pada mereka ini angka kurang dari 90 dianggap kritis.

Mengapa penderita Covid-19 tidak merasakan apa-apa ketika terjadi (happy) hypoxia?

Beberapa dugaan yang muncul:
Usia lanjut, diabetes, bisa MENUMPULKAN respon neurologi terhadap trigger hypoxia. Artinya meskipun kadar oksigen terlalu rendah tidak ada intruksi dari otak untuk mempercepat laju pernafasan hingga lebih dari 20 kali per menit.

“Tipu daya” imunologi yang dilakukan oleh virus, dengan cara menghasilkan protein yang akan memperlambat munculnya respon immune, termasuk mengaktifkan kelenjar hipothalamus di otak untuk memerintahkan laju pernafasan dipercepat

Respon immune yang over-reaktif sehingga justru merusak sel-sel saraf yang berfungsi sebagai sensor hipoksia.

Paru-paru gagal mengeluarkan karbon dioksida meskipun kadar oksigen sudah rendah.

Kerusakan paru-paru yang tengah berlangsung menyebabkan desensitisasi sistem sensor menjadi tidak sensitif terhadap rendahnya kadar oksigen.

Bagaimana mengetahui akurasi oxymeter?

🦋 Lakukan pengukuran 2-3 kali di jari yang sama dengan selang waktu 1-2 menit: angka harus menunjukkan selisih maksimum 2.

🦋 Lakukan pengukuran di jari telunjuk kiri dan kanan secara bergantian dengan selang waktu 1-2 menit: angka harus menunjukkan selisih maksimum 2.

_KM. 28 June 2021_

Komentar